Akselerasi Ekonomi Sirkular, IPKB Diundang Ikuti Pelatihan Strategis InTex Indonesia di Bandung
Kementerian PPN/Bappenas bersama UNEP mengundang IPKB dalam Pelatihan Ekonomi Sirkular dan Penilaian Daur Hidup selama dua hari di Politeknik STTT Bandung. Melalui proyek InTex Indonesia ini, partisipasi IPKB diharapkan mampu memberikan pengetahuan baru bagi IKM untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing global.
BANDUNG — Dalam upaya mempercepat transisi industri tekstil nasional menuju praktik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) secara resmi mengundang Indonesia Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) untuk berpartisipasi dalam agenda Pelatihan Ekonomi Sirkular dan Penilaian Daur Hidup (Life Cycle Assessment/LCA). Kegiatan intensif ini berlangsung selama dua hari penuh, yaitu pada Selasa hingga Rabu, 14–15 Juli 2026, bertempat di Politeknik STTT Bandung.
Pelatihan yang mengusung tema "Akselerasi Industri Tekstil Menuju Ekonomi Sirkular dan Berkelanjutan" ini merupakan bagian dari implementasi Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular 2025–2045 serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Program prioritas ini diinisiasi melalui kolaborasi internasional antara Kementerian PPN/Bappenas dengan United Nations Environment Programme (UNEP) melalui proyek InTex Indonesia (Innovative Business Practices and Economic Model in the Textile Value Chain). Dalam pelaksanaannya, proyek ini digerakkan oleh konsorsium mitra yang terdiri atas Resilience Development Initiative (RDI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), James Cook University, serta berkolaborasi dengan Politeknik STTT Bandung.
Keikutsertaan IPKB dalam pelatihan selama dua hari ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang signifikan bagi penguatan kapasitas industri lokal. Melalui materi yang komprehensif, agenda ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan mendalam, wawasan taktis, serta keterampilan teknis baru bagi para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di sektor konveksi. Pemahaman mengenai ekonomi sirkular diproyeksikan dapat membantu IKM bertransformasi dari model bisnis linier tradisional (ambil-buat-buang) menuju praktik bisnis yang efisien, meminimalisasi limbah, serta mampu meningkatkan daya saing di pasar domestik maupun pasar global yang kian menuntut standar keberlanjutan tinggi.
Selama pelatihan, perwakilan IPKB bersama pelaku industri tekstil lainnya dibekali kurikulum terstruktur dari para pakar lintas sektor. Pada hari pertama, peserta mempelajari arah kebijakan nasional tekstil hijau, model bisnis sirkular tingkat regional, implementasi standar global ISO 59000, hingga aspek keberlanjutan rantai pasok dari serat menjadi kain. Sementara itu, hari kedua difokuskan pada pengenalan instrumen penilaian dampak lingkungan (Life Cycle Assessment) berbasis standar ISO 14040 dan 14044 serta lokakarya studi kasus langsung pada produk pakaian olahraga (sportswear).
Melalui surat resmi bernomor B-14180/Dt.07.04/PR.01.03/07/2026, Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi, menegaskan bahwa proyek InTex Indonesia berkomitmen penuh memberikan pelatihan dan pendampingan lanjutan bagi industri tekstil nasional agar mampu mengintegrasikan prinsip-prinsip sirkularitas ke dalam operasional harian perusahaan secara nyata.