Dari Sentra Konveksi ke Layar...
Dari Sentra Konveksi ke Layar Ponsel: E-Commerce Mendigitalkan Fesyen Indonesia

Dari Sentra Konveksi ke Layar Ponsel: E-Commerce Mendigitalkan Fesyen Indonesia

Digitalisasi e-commerce membuka peluang baru bagi industri fesyen Indonesia, khususnya penjahit dan IKM konveksi, untuk menjangkau konsumen secara langsung. IPKB mendorong pemanfaatan marketplace, live streaming, dan sistem pre-order agar pelaku usaha dapat meningkatkan daya saing, menjaga modal, dan mengurangi risiko stok. Kolaborasi digital juga berpotensi menciptakan wirausaha baru serta lapangan kerja di Jawa Barat, sekaligus memperkuat pilihan konsumen terhadap produk buatan Indonesia.

Andi Rohandi
Andi Rohandi
Penulis
08 Oct 2026
Dipublikasi
2 menit
Waktu baca
459
Views

Industri Fashion Indonesia sedang menemukan jalan baru lewat layar ponsel. E-commerce kini bukan sekadar etalase digital, tetapi cara baru bagi penjahit, konveksi, dan pabrik tekstil menjangkau pembeli secara langsung. Dua tokoh industri asal Jawa Barat menyuarakan perubahan ini: Nandi Herdiaman, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), dan Ian Syarif dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).


Kedua tokoh ini paham betul tekanan yang dihadapi pelaku usaha. Nandi menyebut sejak 2022 banyak anggota IPKB terpaksa menghentikan usaha karena kalah bersaing dengan produk impor murah, baik di pasar online maupun offline. Meski begitu, ia menegaskan pihaknya tidak anti impor dan meminta pemerintah memperhatikan produk lokal agar keduanya bisa berjalan beriringan. IPKB juga sudah lebih dulu bergerak: organisasi ini membekali anggotanya berjualan online dan menggandeng marketplace agar pelaku konveksi tetap bertahan di era digital.


Sementara itu, Ian Syarif, yang memimpin API Jawa Barat dan kini menjabat Wakil Ketua Umum API, melihat kunci menghadapi peredaran produk ilegal ada pada disrupsi rantai pasok. Dengan dukungan TikTok Indonesia, pelaku fesyen dalam negeri kini dapat menembus pasar langsung ke tangan pembeli, tanpa melewati rantai perantara dan pedagang yang panjang. Hasilnya adalah produk jadi yang kualitasnya lebih baik sekaligus harganya lebih terjangkau bagi konsumen. 


Di tengah situasi itu, kami mengapresiasi TikTok Indonesia atas kolaborasi keanggotaan secara masif dan program TikTok Academy yang mengajarkan pelaku usaha berjualan secara digital. Pelatihan ini tidak hanya mendigitalkan industri fesyen. Ia juga memberi pelaku usaha dalam negeri senjata untuk menghadapi gempuran produk ilegal dan produk murah yang kian merajalela.


Kuncinya ada pada dua strategi: siaran langsung (live streaming) dan sistem pre-order. Lewat live streaming, pengusaha bisa menunjukkan bahan, jahitan, dan kualitas produk secara transparan, sehingga pembeli bisa membandingkan langsung barang lokal yang bermutu dengan barang murah yang tak jelas asalnya. Sistem pre-order membuat produksi mengikuti pesanan nyata. Stok tidak menumpuk, modal kerja lebih terjaga, dan pelaku IKM tidak perlu terjebak perang harga yang tidak sehat.


Jika dijalankan serentak, kami memperkirakan langkah ini dapat melahirkan wirausaha baru dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat Jawa Barat, mulai dari penjahit, pengawas mutu, tim pengemasan, hingga host live dan kreator konten. Digitalisasi memang bukan pengganti perlindungan pasar domestik. Namun bersama dukungan pemerintah yang menjaga persaingan tetap adil, e-commerce bisa membuat label "buatan Indonesia" kembali menjadi pilihan utama bangsanya sendiri.


0 suka 0 bookmark 2 share

BAGIKAN

Diskusi (0)

Bagikan pemikiran dan tanya jawab tentang artikel ini.

Login untuk bergabung dalam diskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Akses Terbatas

Silakan masuk ke akun Anda atau mendaftar gratis untuk berinteraksi (menyukai, menyimpan, berkomentar) dengan konten eksklusif kami.

ARTIKEL TERKAIT

Lanjut baca.

Daya Saing IKM Sangat Bergantung pada Kemitraan dan Pasokan Bahan Baku
Industri
28 Oct 2026 3 mnt baca 295 views 2 komentar

Daya Saing IKM Sangat Bergantung pada Kemitraan dan Pasokan Bahan Baku

Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menegaskan bahwa daya saing IKM konveksi bergantung pada kemitraan industri dan ketersediaan bahan baku. IPKB mendorong pemerintah memperkuat rantai pasok tekstil nasional, bukan menutup kekurangan bahan baku dengan impor pakaian jadi. Empat prioritas yang diusulkan meliputi penguatan rantai pasok, regulasi pro-daya saing, kurikulum pelatihan sesuai kebutuhan IKM, serta pelatihan di sentra industri untuk memperkuat tenaga kerja dan lapangan kerja lokal.

IKM PENYERAP TENAGA KERJA TERBESAR, TAPI PULUHAN TAHUN TAK PERNAH DAPAT KURIKULUM SDM YANG COCOK
Industri
21 Oct 2026 3 mnt baca 503 views 0 komentar

IKM PENYERAP TENAGA KERJA TERBESAR, TAPI PULUHAN TAHUN TAK PERNAH DAPAT KURIKULUM SDM YANG COCOK

Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menyoroti ketidaksesuaian kurikulum pelatihan menjahit pemerintah dengan kebutuhan IKM konveksi yang padat karya. Jika pabrik membutuhkan penjahit spesialis, IKM membutuhkan tenaga kerja yang mampu membuat pakaian secara utuh. IPKB mengusulkan Sekolah IKM Konveksi dengan kurikulum whole garment, instruktur berpengalaman, dan pelatihan berbasis kebutuhan sentra industri agar mampu mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil dan memperluas lapangan kerja.

FAKTA LAPANGAN IKM: MAU BANGKIT TAPI TERJEPIT
Industri
12 Oct 2026 2 mnt baca 84 views 0 komentar

FAKTA LAPANGAN IKM: MAU BANGKIT TAPI TERJEPIT

IKM konveksi menghadapi tantangan berupa order tidak stabil, keterbatasan modal, dampak pandemi dan impor ilegal, serta kekurangan tenaga kerja terampil. Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, mendorong pemerintah turun langsung ke sentra IKM. IPKB mengusulkan pemutihan BI Checking bagi IKM terdampak, akses modal kerja tanpa agunan, serta kurikulum pelatihan khusus IKM konveksi untuk memulihkan usaha dan membuka lapangan kerja.

Pencarian Terakhir

Populer Minggu Ini

Tidak ada hasil ditemukan

Tidak ada hasil untuk "". Coba kata kunci lainnya.